Aku pun berkali-kali harus bertanya “Kenapa ia harus minder dengan badannya?” Padahal Tuhan telah memberikannya talenta yang begitu banyak dan indah. Tubuhnya pun menurutku tidak jelek. Hanya Ate saja yang selalu menjelek-jelekkan badannya sendiri. “Haahh..memang manusia itu tidak pernah puas.”
Dan seperti biasa, hari Sabtu berlangsung dengan kegembiraan, tetapi tidak dengan sahabatku yang membuatku kebingungan belakangan ini. Secara tidak sengaja, aku melihat ia meneteskan air mata di bukunya dan aku serta Nonik pun serentak panik mencari tissue.
“Dewi..lo kenapa?’
Yang ditanya diam saja dan malah menangis di pelukan Nonik. Kami pun hanya diam sambil mengelus-elus punggung dan rambutnya. Dan setelah lama ia terus menangis, akhirnya lama kelamaan ia pun tenang dan memulai ceritanya.
“Lo berdua inget tentang drama gw yang hari selasa?”
“Iya inget…yang lo mainnya bagus banget itu kan..ih itu keren banget..”, kata Nonik yang ingin mencairkan suasana tapi tidak tahu situasi dan kondisi. Dan aku pun memarahinya..”Hush..diem lo..”. Dan perhatianku kembali tertuju kepada Dewi.
“Emang kenapa dengan drama kemaren?”
“Itu…………”
“Itu apaan Wi?”, kata Nonik tidak sabar.
“Itu……………………………………………………………kisah nyata…………………………”
“HHAAHH???”. Aku dan Nonik pun tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dewi barusan tetapi Dewi pun menceritakan apa yang dialaminya dengan jelas.
Dalam ceritanya, Dewi tak hentinya menangis. Aku dan Nonik pun membiarkannya menangis. Kami tahu ini sangat berat karena aku dan Nonik bisa ikut merasakan apa yang dialami sahabat kami ini. Aku dan Nonik sendiri, tidak pernah merasakan hal seperti itu.
Keluarga aku, Ate dan Nonik tergolong keluarga yang sejahtera walaupun Nonik dan aku agak kurang dalam hal materil. Dan aku selalu saja bersyukur karena ini semua. Karena aku tahu ternyata ada yang lebih menderita daripada aku yang memiliki kekurangan ini dan itu.
Rasa syukur selalu aku panjatkan kepada Tuhan karena ia telah memberi berkatnya yang melimpah padaku. Dan Ia selalu membantuku dalam menambah penghasilan keluarga.
Sebenarnya aku tidak miskin tapi aku tidak terlalu kaya dibandingkan Ate dan Dewi. Tapi jujur saja, aku tak ingin memberatkan orangtuaku. Aku selalu saja mencoba untuk ikut berbagai perlombaan agar aku ini bisa membiayai hidupku sendiri. Dan memang sejak SMA, aku selalu membiayai hidupku dengan tabungan dan uangku sendiri.
Dari seluruh cerita, akhirnya aku mengetahui bahwa 3 hari lagi orangtua Dewi akan bercerai. Tidak terbayangkan bagaimana kalau itu terjadi padaku dan sekali lagi aku bersyukur tidak mengalaminya.
Aku dan Nonik pun tidak tahu harus berbuat apa. Aku takut, prestasi Dewi akan sampai di sini bila orangtuanya jadi bercerai. Tapi apa yang harus aku lakukan?
Dan akhirnya kami semua hanya bisa berdoa pada Tuhan dan menyertai Dewi dimanapun ia berada agar ia tidak merasa kesepian dan bisa mengatasi perasaannya sehingga ia bisa kembali lagi seperti dulu. Dewi yang selalu tersenyum dan berprestasi di sekolah.
Sebenarnya ada sesuatu yang mendorong hati ini untuk berbuat lebih untuknya. Aku ingin sekali berbicara pada orangtuanya tetapi takut terlalu mencampuri urusan orang dewasa. Tetapi memang mereka pantas untuk dicampuri urusannya karena menurutku mereka belum dewasa.
Bagaimana orangtuanya bisa dibilang dewasa kalau mereka seenaknya saja memutuskan ikrar janji mereka kepada Tuhan tanpa memperhatikan anaknya yang pasti akan sangat terpengaruh dengan perceraian itu.
“Dasarr orangtua..susah diprediksi..”. Akhirnya hati ini tak dapat menahan lagi untuk berbicara pada orang tuanya. Via telepon, aku pun menelepon mereka dan membicarakan apa yang aku bicarakan dan rasakan.
Awalnya takut-takut tetapi akhirnya semuanya aku keluarkan dengan jujur dan penuh harapan bahwa ini semua akan menjadi pertimbangan mereka saat mereka memutuskan untuk bercerai.
Dan selepas dari itu, yang bisa aku dan Nonik lakukan hanya menghiburnya tiap waktu dan memberi semangat serta kegembiraan.