Kami pun berpelukan. Dan dari pelukan itu, sesuatu terlihat. Ada yang disembunyikan. Aku tahu itu. Tetapi seperti biasa, aku hanya diam saja menunggu waktu yang menjawab. Yah, mudah-mudahan saja memang ini..
^*^
Keadaan aku dengan temanku memang tidak separah dulu, tetapi tetap saja ada yang berbeda dengan mereka. Kadang aku pun jadi bingung, sebenarnya siapa yang berbeda? Aku atau mereka?
Tetapi untuk hari ini, aku tidak mengindahkan perlakuan mereka karena pikiranku tertuju pada kabar buruk yang datang saat aku makan malam.
Tiada tanda apa-apa tetapi ibuku dinyatakan mengidap kanker payudara yang agak parah. Jujur, ini berita terburuk yang pernah aku dapat. Bagaimana tidak? Ibuku, ibu yang sangat kucintai, ibu yangterbaik, mengidap penyakit yang lumayan parah.
Hal ini tentu saja membuatku shock setengah mati.Bayangan-bayangan negative secara jelas bergantian di benakku dan aku pun semakin nyata dalamnya.
Ibuku melihat reaksiku yang sangat terkejut pun mencoba menenangkan diriku bahwa mungkin kanker ibuku bisa disembuhkan dengan jalan operasi. Tetapi apakah benar bisa disembuhkan? Walaupun ibuku menenangkanku, tetap saja hati ini tak dapat tenang. “HHaaahhh..satu lagi masalahh…”.
Hatiku saat ini hancur yang pasti. Kini yang kupikirkan hanya harapan dan selalu berdoa demi kesembuhannya. Tetapi sekali lagi, tetap saja aku masih takut seperti tak ada pegangan.
Aku pun mencoba untuk tegar karena aku harus bisa memberikan semangat pada ibuku tentang kesembuhannya. Bagaimana aku bisa memberikan semangat kalau ibuku saja tahu kalau aku rapuh..dan akhirnya aku pun mencoba untuk kuat dan tidak menangis lagi walaupun di dalam hati, diri ini sakit.
Sebenarnya, satu-satunya saranaku untuk meringankan masalahku hanya pada sahabat-sahabatku tercinta. Biasanya, aku bisa menangis pada mereka, bisa cerita berbagai macam dan yang pasti mereka selalu bisa memberiku semangat dan melupakan masalahku.
Tetapi mungkin kali ini berbeda karena mereka sudah berbeda. Terlebih lagi karena mereka juga sedang mengalami masalah sepertiku. Aku pun tidak tega untuk menceritakan masalahku ke mereka. Takut menambah masalah saja. Satu masalah saja sudah berat, apalagi kalau ditambah lagi.
Dan pada akhirnya, satu-satunya jalan adalah berdoa. Mungkin hanya Tuhan-lah yang dapat membantuku untuk menghadapi masalah ini. Hari-hariku pun berjalan seperti biasa, mencoba untuk percaya pada Tuhan.
^*^
Semakin lama, aku semakin bisa menghadapi keadaan ibuku dan aku senang sekaligus takut karena tinggal beberapa hari lagi, ibuku akan dioperasi. Tetapi semakin lama, aku semakin tak bisa menghadapi sikap sahabat-sahabatku..Ate, Nonik dan Dewi..
Bagaimana ini? Sikap mereka semakin lama semakin membuatku tersiksa dan aku makin lama tak bisa menerima sikap mereka yang seakan-akan mengatas namakan masalahnya dengan sikap mereka yang tidak mengenakkan itu.
Aku jadi teringat dengan masa-masa indah kami saat kami selalu bersama, selalu berbagi kegembiraan bersama, berbagi kesedihan bersama dan memang kami selalu bersama, sampai-sampai aku berpikir bahwa mereka memang sahabatku yang abadi.
Tetapi ternyata tidak. Dengan adanya masalah yang mungkin berat pada masing-masing dari kami, semua menjadi tidak ingat bahwa ada sahabat di sampingnya yang selalu siap untuk membantu dan persahabatan itu seakan tak ada.
“Bagaimana aku bisa membantu kalau mereka tidak mau dibantu??”, hatiku bertanya. Jujur, sampai sekarang aku tetap menganggap mereka sahabat abadiku dan aku mau mereka seperti dulu. Dan karena aku semakin tak bisa menahan perasaan itu, aku pun meluapkan segala amarahku pada mereka. Entah untuk apa, mungkin hanya sekedar melepaskan segala rasa yang ada..
“Lo semua kenapa sih? Gila yah..cuma gara-gara masalah ini dan itu, kita jadi ngga kayak dulu lagi tau ga..”
“…”
“ADA APAAN SIH DENGAN LO SEMUA? KENAPA MALAH JADI BEDA? LO NGGA INGET ADA SAHABAT-SAHABAT LO YANG SIAP NGEBANTU MASALAH LO? EMANG KALO LO NGEJAUH, MASALAH LO BAKAL ILANG?....NGGA KAN? TERUS KENAPA? KENAPA NGGA JAWAB??”