|
Two Tumbs Up buat Remaja Kita! Malam minggu yang basah pekan lalu boleh jadi merupakan malam minggu paling keren sepanjang hidup kita di Permata Pamulang. Remaja kita – terutama yang berada di lingkungan RT 06-10/RW 05 – sukses menggelar Festival Musik Remaja. Acara berlangsung di Taman Bukit Permata Raya, di samping lapangan tenis, 30 Agustus 2008. Pasukan remaja yang dikomandani oleh Dido, benar-benar berhasil membuktikan betapa mereka adalah remaja penuh energy. Kemauan, bakat, kerja keras, wawasan, dan kerendahhatian semua tertuang malam itu. Mencairkan pesimisme sebagian orang tua yang melihat mereka sekadar sebagai anak muda nongkrong.
Ide dari Nongkrong “Semua bermula dari iseng lempar-lemparan omong ketika nongkrong,” ujar Dido. Kemudian bersahutanlah komentar di antara mereka. Sampai tiba pada kesimpulan, mereka bisa dan mau mewujudkan ide tersebut. “Pasti bisa. Dari nongkrong ini aja kita udah bisa bikin lagu. Masak kita nggak bisa manggung,” tukas Surya. Surya adalah ketua panitia Festival Musik Remaja tahun lalu. Soal bikin lagu dan manggung, ya harap maklum, panggung ini buat remaja, tentu saja buat mereka manggung juga. Persiapan Dua Bulan, Kerja Tiga Minggu Ini dia – kalau mau dikoreksi – kebiasaan buruk yang sulit ditinggalkan. Santai. Meski sejak Juli konsep sudah digodok, kerja keraas tetap saja praktis dimulai tiga minggu menjelang D-Day. Memang sih, harus diakui, tiga minggu tersebut dijalani dengan penuh konsentrasi demi suksesnya acara. Supaya konsep matang dan rasional, mereka pun datang menemui aku, Tante Ayu mereka panggil. (Ups… padahal se-RT mah udah gak pake Tante, kale manggilku. Whatever….). Melenceng dikit, sebelumnya aku gak kenal mereka secara personal kecuali sebagai sekumpulan anak muda yang kalau disebut nama kelompok mereka, beberapa orang tua akan mengernyitkan alisnya. (So, guys, this is the time to change the name, I think). Aku bersedia menerima mereka hanya karena yakin seyakin-yakinnya, begitu mereka punya niat positif, the image could be turned extremely. Pertemuan pertama in the mid of July. Tema; know how menggali ide seliar mungkin. Being “out of the box” person. Pertemuan kedua, undang Oom Uncu, Creative Head RCTI, menegaskan know how tersebut. Pertemuan ketiga, proposal done! Kerja keras dimulai. Kondisi sulit mulai membentang. “Pertama, mencari beberapa pak RT itu syusyah ternyata. Seperti mencari Presiden,” ujar Dido. Sekarang sih dia senyum-senyum, dulu dia abis-abisan berjuang. Bahkan lepas subuh sudah mengintai rumah pak RT dimaksud. Kedua, mencari dana. “Wah, ini sih sampe begadang,” tandas Gabbi. Gabbi sebenarnya panitia panggung, tapi karena kompetensinya, ia tercebur menjadi the all in lady (good job!). Kisah unik mencari dana dialami praktis oleh semua yang kebagian tugas ini. “Kalau memasukkan proposal ke badan usaha di sekitar komplek sih boleh dibilang okelah. Kasih proposal, tunggu jawaban,” kata Gabbi lagi. Akan tetapi begitu datang ke warga untuk mengajak mereka berpartisipasi, baru deh seru-serunya muncul. Dana dan Hani sempat kebagian dikuliahi panjang lebar, namun kemudian sang dosen membiarkan mereka pulang dengan tangan hampa. Ada lagi yang dipanggil pak RT. “Kirain mau dikasih donasi. Taunya malah diomelin dan kita dilarang mendatangi warga lagi,” tutur Budi. Akhirnya, dana donasi warga di tangan Budi dan Gabbi adalah pemecah rekor sumbangan terendah. Bagaimanapun, alhamduillah dan big thanks. D-Day Comes, Senewen Pop Up D-Day comes. Briefing terakhir sebelum D-Day dilakukan menunggu stage beres dan lighting on. Pukul 10.30 malam Sabtu. Aku agak keras bilang bahwa tidak ada lagi kesempatan main-main. Besok adalah hari penentuan, nilai apa yang akan datang dari warga, bad or good ditentukan besok. Phiuuuuhhhh…. Pagi Sabtu koq ada mendung menutup ya. Senewen pop up, semua dag dig dug. Akan tetapi siapa sih bisa mengalahkan alam. Fleksibel aja. Akhirnya, 11.30 hujan deras, agak badai, datang mengguyur. Cuaca baru bersahabat lagi pukul 15.00. Acara dibuka. Pak RW, Bapak Hengky, memberikan sambutannya. Tante Ayu ikut-ikutan omong juga setelah dipanggil Dido dengan nama berganti-ganti, mulai dari Bu Agus, Tante Agus sampe Tante Ayu. (Walah, Dido keliatan cool, ternyata dia tegang juga….) Band Keren! Swear, band yang manggung emang keren-keren. Kebanyakan mengusung genre musik metal hardcore. Begitu Rose Mahr muncul dan vokalisnya buka suara, ketauan deh para orang tua banyak gak ngerti genre ini. Malah ada yang vonis ini musik potensial bikin ricuh. Kejadian? Alhamdulillah, aman sampai selesai. Total 14 band tampil. Mereka datang dari kawasan sekitar Pamulang, BSD, Cinere. Genre musik lain ada juga. Misalnya akustik guitar Adhia-Monica dengan Ardelle sebagai vokalis. Ini anak-anak ABG beneran. Adhia kelas 6, Monica kelas 7 dan Ardelle kelas 4. Ayat-ayat Cinta dan Slow Down Baby mengalir manis, menimbulkan respon heboh penonton. Ada juga Meat Puppet yang juga tampil dengan format akustik. Anak-anak imut lainnya tampil fashion show. Bu Naning sibuk bergaya di bawah panggung, memberikan instruksi buat para model asuhannya. Tengah Malam Usai sudah. Menjelang tengah malam acara selesai. Dido mengomandoi teman-teman operasi semut. Gabbi sibuk menghitung anggaran tersisa. Masih ada pembayaran yang mesti dipenuhi. Briefing diadakan 12.04. Two tumbs up for all of you, guys! Tahun depan bikin lebih gede? “Yes, Tante!” sahut mereka kompak. Buat Para Orang Tua Nah, para orang tua, anak kita tidak lama bersama kita. Ketika mereka muncul dengan aneka gagasan positif, itulah saat kita turun tangan memaknai hidup mereka. Sehingga kelak mereka akan menjadi sosok berguna bagi sekitarnya. |
Comments